Membuka Mata Ketiga: Manifestasi dari Kembalinya Sabdo Palon



by Leonardo Rimba on Sunday, March 11, 2012 at 6:01pm ·

Berikut kesaksian pandangan mata dalam Bakti Sosial Penyembuhan yg dilaksanakan oleh Komunitas Spiritual Indonesia di Wantilan DPRD Bali, Renon, Denpasar. Ditulis oleh Leonardo Rimba dan Frans Hananto.



Acaranya sendiri dihadiri oleh sekitar 400 orang yg berdatangan sejak acara dimulai sampai selesai jam 22:30 Wita. Dengan lebih dari 20 orang penyembuh maupun pengisi acara workshops yg berasal dari banyak kota di Jawa: Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, dll, dan juga dari Bali sendiri.



Ada peluncuran buku Sabdo Palon Jilid II oleh Damar Shashangka. Dan ada bedah buku Membuka Mata Ketiga dan buku Pelangiku Warna Ungu oleh Leonardo Rimba.



Pembahasan berjalan dengan begitu santai karena semua peserta sudah mengikuti sesi penyembuhan batin yg dilakukan oleh Frans Hananto dari Yogyakarta. Memang sesi penyembuhan ditaruh di awal acara untuk membersihkan segala pikiran buruk yg tidak perlu, sehingga kita bisa dengan mudah bilang, bahwa Sabdo Palon bisa diartikan sebagai diri kita sendiri. Pribadi per pribadi. Dan kita juga bisa dengan mudah melihat bahwa mata ketiga kita memang terbuka sejak asalnya, tanpa perlu terjatuh ke dalam kepercayaan umum bahwa orang harus waskita, yg juga cuma istilah saja.





-



Oleh Leonardo Rimba (dari Jakarta) :





Kita rencana mulai acara pas pukul 11:00 Wita. Saya bolak-balik dengan gelisah karena belum ada tanda-tanda Cokorda Oka Ratmadi, ketua DPRD Bali, sudah datang sampai tiba-tiba Agus Januraka bilang, Cok Rat sudah datang, dan menunggu kita di teras Gd DPRD, sekitar 60 meter dari Wantilan. Ayo kita jemput, kata Agus Januraka.



Tapi saya sudah buka sepatu, nyeker. Dan tidak bisa berlama-lama membiarkan ketua DPRD menunggu. Menurut aturan protokol, kalau pejabat membuka acara, maka mereka harus dijemput oleh ketua panitia, dan dihantar untuk masuk ke ruang acara.



Akhirnya, dengan kaki nyeker, tanpa sepatu atau sandal, saya berjalan ke Gd DPRD bersama Agus Januraka. Begitu diperkenalkan, saya langsung duduk di sebelah Cok Rat, dan mengucapkan terimakasih atas semua fasilitas yg diberikan untuk kita. Mungkin kami ngomong lima menit di teras Gd DPRD.



Setelah itu kami beriringan jalan ke Wantilan. Ada Cok Rat yg pegang tangan kiri saya terus waktu jalan dari Gd DPRD ke Wantilan. Cok Rat tubuhnya besar sekali, dan jalannya perlahan-lahan. Tangan kiri saya dipegang sehingga saya ikut jalan perlahan-lahan.



Waktu jalan dari Gd DPRD ke Wantilan, Cok Rat tanya umur saya berapa. Saya jawab, saya lahir tahun 1963. Sekitar 48 - 49 tahun. Lalu Cok Rat bilang, dia usianya 68 atau 69 tahun. 20 tahun di atas saya. Pada saat itu pula saya meminta Cok Rat untuk menjadi sesepuh Komunitas Spiritual Indonesia yg beranggotakan ribuan teman dari Sabang sampai Merauke, dan bahkan di luar negeri juga. Alasan saya, Cok Rat yg paling sepuh. Sebagai seorang insan spiritual, ketua DPRD Bali memang termasuk yg paling sepuh sehingga permintaan saya tidak bisa ditolak.



Di sebelah kami ada dua orang ajudan Cok Rat, dan Agus Januraka. So, kita orang masuk berempat ke Wantilan, langsung ke panggung di depan. Semua peserta berdiri, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Oh (Indonesia raya, merdeka.. merdeka..)



Tidak ada bendera merah putih yg dikibar-kibarkan tidak menjadi masalah, karena benderanya ada di dalam diri kita. Tidak ada logo burung Spiritual Indonesia yg dipajang juga tidak apa, karena kita semua adalah burungnya. Baik laki maupun perempuan kita semua jenisnya burung. Oh (suka terbang)



Yg jelas, saya sangat bahagia karena kita berhasil menciptakan Merkabah (Human Light Energy) yg sangat besar di Denpasar, melalui meditasi kita bersama. Meditasi yg dilakukan oleh teman-teman di Wantilan, DPRD Bali, pada 4 Maret 2012 memunculkan Merkabah dari jenis Pancer. Letaknya persis di atas Wantilan itu, naik tinggi sekali ke atas langit, dan energinya bisa diakses oleh siapa saja yg mau.



Di Trowulan, Merkabah yg muncul dari jenis Tanah. Di Yogyakarta dari jenis Api. Di Jakarta dari jenis Air. Dan di Surabaya dari jenis Udara. Sadulur Papat ada di Jawa, dan ternyata Pancernya ada di Bali.



So, napak tilas Komunitas Spiritual Indonesia di putaran kali ini telah berakhir dengan acara di Denpasar hari Minggu lalu. Kali berikutnya kita bertemu, kita akan masuk putaran baru. Entah apa lagi yg akan dimunculkan oleh Alam Semesta. Oh (sambung menyambung menjadi satu)





-



Oleh Frans Hananto (Yogyakarta) :





Manusia memang mempunyai daya dan kemampuan yang terbatas, namun kenyataan menunjukan hal-hal yg berbeda. Ada banyak hal yg semula merupakan batasan kini sudah ditembus oleh kekuatan manusia. Salah satu kekuatan manusia yg paling besar berada di alam pikiran. Alam pikiran ini merupakan bagian sumber pengetahuan yg sudah terbuka oleh hasil eksplorasi dari keinginan tahu manusia. Pertanyaan yg cukup penting adalah dimanakah alat bantu manusia utk mendapatkan system kecerdasan utk mengakses pengetahuan tak terbatas ini. Konsep jaman ini mengatakan bahwa alat itu bernama otak. Di lain pihak ada seseorang yg sudah bereksperimen dan mendapatkan teori bahwa otak yg cerdas berada di jantung (heart). Sementara saya tahu bahwa kecerdasan manusia justru sangat luar biasa ketika manusia tidak menggunakan otak ataupun jantung utk berpikir; dan sesungguhnya manusia merupakan koordinat yg unik lagi sempurna sehingga kemampuan mendapatkan hal-hal yg murni kecerdasan ketika kondisi internal dalam keadaan santai, nyaris tanpa pertimbangan. Dalam Pengertian sekarang mungkin lebih mudah kita memakai teori gelombang otak. Gelombang otak menghasilkan niat dan kemudian kecenderungan sifat pilihan cara berfikir serta kemudian muncul tindakan atau aktifitas manusia.



Adalah seorang bernama Leonardo Rimba yg telah mengembangkan suatu tehnik yg disebut Mata Ketiga. Mata Ketiga merupakan suatu tools yg membuat kita sedikit demi sedikit memahami secara lebih fair Hukum-hukum Semesta & Pengetahuan Semesta. Banyak teori dan asumsi menjadi berbeda saat mana logika, etika dan estetika duduk dalam perimbangan yg tidak terlalu tendensius memenuhi kewajaran. Mata ketiga sudah dalam dalam tahap aplikasi ketika seseorang mulai menggunakan system cara berpikir yg baru. Cara berpikir yg baru ini yaitu sadar memilih bentuk pikiran dalam setiap aktifitas hidup. Awal mula didahului dengan relaksasi dan menurunkan gelombang pikiran minimal di alpha. Banyak yg memilih dengan tehnik meditasi, namun itu tidaklah mutlak.



Kopdar Spiritual Indonesia di Bali, 4 maret 2012, yg menaikkan judul Bakti Sosial Penyembuhan telah selesai. Sejauh ini telah diterima oleh masyarakat Bali dengan sangat welcome… luar biasa! Sebagian besar mendapatkan manfaat dari perhelatan akbar ini, dan berbagai ide serta gagasan semakin berkembang bagi kelangsungan Komunitas Spiritual Indonesia. Masyarakat Spiritual Indonesia baru semakin lebih dewasa dan tumbuh menjadi lebih matang. Matang dalam perbedaan dan menyadari kebutuhan esensi serta berbagai bias yg sering terjadi justru mempunyai potensi utk menjadi pelangi indah yg berseri. Pelangi Ungu sebagai warna spiritual sudah muncul dari timur… Bali adalah pelangi timur! Pluralisme menjadikan manusia berproses dalam kedewaan dirinya serta menemukan diri individu unik utk berperan saling melengkapi.



Sebuah pengalaman yg sangat berharga, saya dapatkan ketika secara rahasia mengamati proses state waktu meditasi mata ketiga yg dilakukan Leonardo Rimba. Saya memerlukan waktu sekitar 2 hari pengamatan dalam obrolan maupun sesi meditasi Mata Ketiga. Saya coba membuat struktur dari pengolahan state/kondisi internal kemudian memancarkan kapada seseorang utk mendapatkan pengalaman internal yg sama sebagai mata ketiga. Tahap yg saya tangkap yaitu:



1. Relaksasi menurunkan gelombang pikiran ke alpha dan tetha.

2. Reconnection, selalu terhubung energy bumi-langit.

3. Olah nafas: atas pineal, bawah pituitary.

4. Pancarkan ke subyek (manusia atau dimensi).

5. Kontiniu.



Utk tahap pengaktifan sudah memenuhi standart pencapaian saya, bahkan agak surprise bahwa ada kecepatan cleansing di pusat kesadaran/energy diwahnya. Saya mencoba tehnik Mata Ketiga dengan saudara Handhy Dwi A, cukup memuaskan. Dalam perkembangan lanjut saya membuat struktur aplikasi Mata Ketiga, dan bagi saya sangat menarik sekali hasilnya.



Uh uh.. ternyata saya sudah melancongkan kata dalam pikiran anda. Baik, terimakasih dulu, salam Mata Ketiga!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar