Bahasa Daerah

Kedua orang tuaku lahir dan besar di Bali. Mereka berdua berasal dari 2 desa yang bertetangga, sekitar 5 km dari Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung, Bali. Ketika SD, eh mungkin namanya SR (sekolah rakyat) mereka bersekolah di sekolah yang sama. Mereka bertemu lagi ketika sama-sama kuliah di Denpasar. Ibuku kuliah di fakultas ekonomi universitas Udayana, sedangkan Bapak di Akademi Maritim.

Setelah menikah, karena di Bali susah mendapat pekerjaan, mereka merantau ke Jawa. Tahun 1976, di Jawa Tengah, aku lahir. Karena orang Bali, Bapak dan Ibu berbahasa Bali ketika berkomunikasi antara mereka. Di Jawa Tengah, mereka berdua bertugas di semacam proyek pemerintah yang memberi penyuluhan ke desa-desa terpencil. Penyuluhan tentang hal-hal dasar, seperti cara membuat jamban sehat, masalah sanitasi, cara membuat makanan sehat untuk bayi dan lain-lain.

Kami biasanya tinggal di rumah kepala desa. Karena pekerjaannya itu, kedua orangtuaku fasih berbahasa Jawa. Aku dan kakakku jadinya cuma bisa berbahasa Jawa, tidak bisa berbahasa Bali, waktu itu.

Tahun 1979 kami sekeluarga pindah ke Kodya Bengkulu karena Ibu diangkat menjadi PNS di sana. Di Bengkulu, bahasa pergaulan sehari-hari adalah Bahasa Bengkulu. Bahasa Bengkulu itu menurutku, mirip-mirip dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Minang (Sumatera Barat) dan Bahasa Melayu (Malaysia). Persamaan antara bahasa-bahasa itu menurutku, sampai sekitar 40 % untuk kosakatanya, tentu dengan dialek yang agak berbeda.

Bahasa daerah di propinsi Bengkulu bukan hanya satu itu saja. Yang aku biasa pakai waktu itu adalah bahasa yang digunakan di Kodya Bengkulu (ibukota propinsi). Sedangkan di kabupaten atau kecamatan lain di propinsi Bengkulu bahasa daerahnya bisa saja berbeda lagi.

Waktu pindah ke Bengkulu itu umurku sekitar 3 tahun, menurut cerita ibuku, aku langsung bisa bahasa Bengkulu itu dalam waktu beberapa hari saja, karena bermain dengan anak-anak tetangga yang menggunakan bahasa itu.

Pada waktu di sekolah dari TK, SD sampai SMP (hanya sampai kls 1 SMP di Bengkulu) dalam pergaulan sehari-hari menggunakan bahasa Bengkulu. Bahasa pengantar resmi di kelas tentu saja Bahasa Indonesia.

Adikku yang lahir di Bengkulu tahun 1981, tidak bisa berbahasa Jawa. Belakangan datang seorang paman (adik Bapak) dari Bali. Dia disekolahkan SMA oleh orang tuaku.

Jadi di rumah waktu itu ada 6 orang. Ada beberapa bahasa yang digunakan. Bapak, Ibu dan Paman berbahasa Bali. Bapak dan Ibu berbahasa Jawa dengan aku dan kakakku. Aku dan kakakku berbahasa Jawa. Kami semua berbahasa Indonesia ke adikku. Dengan tetangga, kebanyakan berbahasa Bengkulu. Dengan teman-teman kantor Bapak dan Ibuku yang kebanyakan orang Jawa, aku menyapa mereka dengan bahasa Jawa halus.

Pada waktu tinggal di Bengkulu itu sebenarnya aku ingin sekali bisa berbahasa Bali, tapi sulit. Aku sudah berusaha, antara lain dengan cara membaca beberapa buku cerita anak yang dwi bahasa, Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia. Juga berusaha mencoba berbahasa Bali dengan orangtua dan paman, tapi belum berhasil.

Tahun 1990, aku dipaksa pindah ke Bali karena kedua orang tua meninggal. Aku pikir waktu itu, begitu pindah ke Bali pasti segera bisa berbahasa Bali, ternyata tidak.

Di Bali aku tinggal di rumah paman. Paman seorang polisi, istrinya membuka warung yang menjual kebutuhan sehari-hari di rumah. Paman mempunyai 3 orang anak yang sebaya denganku. Ternyata di rumah, paman dan bibi berbahasa Indonesia dengan anak-anaknya. Paman hanya berbahasa Bali dengan Bibi. Anak-anaknya juga kurang fasih berbahasa Bali karena jarang menggunakannya.

Di sekolah -- aku sekolah di SMPN 1 Denpasar dan lanjut ke SMAN 3 Denpasar – jarang sekali teman-teman yang berbahasa Bali untuk pergaulan sehari-hari, kebanyakan memakai Bahasa Indonesia.

Tahun 1995, aku tamat SMA, diajak paman untuk bekerja di perusahaan yang dia pimpin. Paman ini yang dulu disekolahkan orang tuaku di Bengkulu. Itu sebuah Bank Perkreditan Rakyat di Sukawati, Gianyar, Bali. Semua teman kerja orang Bali dan berbahasa Bali dalam pergaulan sehari-hari. Karyawannya sekitar 12 orang. Bahasa Indonesia hanya digunakan pada rapat resmi di kantor.

Jadi di awal-awal itu, teman-teman sekerja mesti menterjemahkan kembali cerita yang sudah dia sampaikan ke teman lain ke dalam Bahasa Indonesia agar aku bisa mengerti. Lama-kelamaan kosa kata Bahasa Bali yang aku ketahui makin banyak, sehingga hanya perlu menanyakan 1-2 kata saja yang belum aku mengerti kepada teman-teman. Aku tetap berbahasa Indonesia dengan teman-teman sekerja karena sudah kebiasaan, tapi sudah tidak terlalu perlu penterjemah Bahasa Bali lagi. Itu proses yang lama, 7 tahun!

Tujuh tahun aku bekerja di situ, kemudian pindah kerja ke tempat lain. Setelah belajar 7 tahun secara intensif Bahasa Bali, aku belum percaya diri juga kalau mesti ngomong bahasa Bali waktu itu. Aku berani berbicara dalam Bahasa Bali beberapa tahun kemudian setelah itu, itu pun karena agak terpaksa.

Sekarang aku masih mengerti Bahasa Jawa, walaupun aku dengar dan baca, banyak juga istilah-istilah baru yang kurang aku mengerti.

Sekitar 2 tahun yang lalu, aku agak dipaksa oleh kakakku bikin facebook. Facebook ini awalnya dibuatkan oleh kakakku, sehingga menggunakan nama asliku (sialan!). Tapi dengan nama asli ini, jadinya aku dikenali oleh teman-teman lama di Bengkulu dulu. Dari situ aku baru sadar, sudah banyak sekali kosa kata bahasa Bengkulu yang aku lupa. Karena sejak pindah ke Bali tahun 1990 aku tidak pernah bertemu dengan orang Bengkulu, sehingga tidak pernah lagi mendengar bahasa Bengkulu atau bebahasa Bengkulu.








Foto Bapak dengan seragam di akademi maritim dan foto ibu waktu kuliah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar